FALSAFAH KALO SARA PEDOMAN HIDUP SUKU TOLAKI -->

Kategori Berita

Jum'at, 4 April 2025

Iklan Semua Halaman

SELAMAT DATANG DI PORTAL RESMI SDN 1 WONUAMBUTEO

FALSAFAH KALO SARA PEDOMAN HIDUP SUKU TOLAKI

Monday, February 22, 2021

Filsafat merupakan suatu sikap hasil pemikiran manusia. Dalam pemikiran manusia tersebut pastilah menyangkut berbagai hal, bisa saja pikiran dia secara individu atau mandiri yang tanpa pengaruh pihak luar, dan bisa juga pikiran itu dipengaruhi oleh fenomena, aturan serta unsur – unsur ekstren lain yang terjadi di sekitarnya. Sikap heran sendiri adalah suatu sikap yang menjadikan unsur ekstern harus sama dengan pikirannya, atau pengalamannya, apabila unsur luar tersebut berbeda dengan yang ia anut dianggap tidak biasa atau aneh. Dengan adanya sikap heran tersebut maka yang namanya filsafat akan terus berkembang, bisa itu berkembang ke arah sains, logika, aturan – aturan atau pun aliran – aliran kepercayaan yang ada.

Suku Tolaki telah lama mendiami Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Suku ini menyebar di beberapa wilayah yang cukup luas yakni wilayah Kota Kendari, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur. Persebaran Suku Tolaki ini membawa serta pranata-pranata sosial, politik, ekonomi dan tata nilai. Sumber nilai dalam Suku Tolaki baik yang berdiam di pedesaan sebagai petani tradisional maupun yang bermukim di perkotaan sebagai pegawai negeri atau pengusaha, sampai saat ini masih menempatkan instrumen adat yang disebut Kalo sebagai suatu yang sakral (Tarimana, 1993; Idaman, 2012). Kalo, dapat berfungsi sebagai lambang pemersatu dan alat penyelesaian berbagai masalah dalam  kehidupan masyarakat.

beberapa prinsip Kalo yang ada dalam masyarakat Tolaki. Yang sampai saat ini masih berlaku meski sebagian telah ditinggalkan, Ini perlu dipahami oleh generasi muda Tolaki dan wajar untuk dilestarikan keberadaannya. 

Adapun empat prinsip atau fungsi Kalo terdiri:

1.   Kalo sebagai lambang Adat-Istiadat

                   Dalam setiap pelaksanaan prosesi adat selalu didahului dengan 
                   kalo sara yang dilaksanakan oleh tolea dan pabitara keduanya 

merupakan pelaku adat dan tuturan bahasanya sangat halus dan memukau ditelinga para peserta, inti sari setiap ungkapan adalah aturan yang mesti dilakukan oleh setiap generasinya. Sehingga kalo menjadi lambang adat istiadat bagi suku Tolaki.

2.   Kalo sebagai fokus Kebudayaan Tolaki

Kebudayaan merupakan hasil dari akal dan budi yang tetap hidup dalam semua komunitas olehnya itu kalo juga menjadi fokus kebudayaan bagi masyarakat Tolaki hal ini dapat dilihat adanya budaya samaturu, dan budaya mepokoaso yang tumbuh subur dalam relung kehidupan masyarakat Tolaki.  

3.   Kalo sebagai pedoman hidup

Sebuah bangsa tentu memiliki idiologi hal ini seperti bangsa kita bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai Pedoman hidup bagi seluruh bangsa Indonesia. Dan kalo sara juga merupakan pedoman hidup bagi masyarakat Tolaki yang telah diwariskan pada setiap penerusnya, salah satu contoh dalam kehidupan masyarakat Tolaki diantaranya : dilarang merusak atau mengambil hak milik orang lain, dilarang mengunjing atau memfitna, dilarang menyakiti orang lain. Sementara yang dikehendaki adalah hidup rukun, saling menghormati satu sama lain, menjadi penopang bagi yang lainnya.  

4. Kalo sebagai alat pemersatu. 

        Kalo juga menjadi alat pemersatu bagi masyarakat Tolaki dan masyarakat lainnya sebagaimana bahasa filosofi kalo yang berbunyi “ inae kona sara I’eto nggo pine sara, inae lia sara I’eto nggo pinekasara “ artinya siapa yang tau adat (aturan ) dia akan dilindungi dan dihormati siapa yang melawan adat (aturan ) maka ia akan dihukum atau diberi sanksi adat. Hal ini persatuan menjadi penting dalam kehidupan masyarakat Tolaki contoh penerapannya seperti : bergotong royong, dan medulu. Yang memberi makna berat sama dipikul ringan sama dijinjing.