cara pengelohan sagu
Sagu adalah tepung
atau olahan yang diperoleh dari pemrosesan teras batang rumbia atau pohon sagu
(metroxylon sagu rottb) tepung sagu memiliki karakteristik fisik yang mirip
dengan tepung tapioca
Sagu merupakan
makanan pokok dari masyarakat suku Tolaki ( sinongi)), palopo (kapurung), papua
(papeda), maluku(papeda), simelue (tabaha), mentawai (kapurut sagu), dayak /
Kalimantan barat (mie sagu), papua (papeda). Sumatra barat (lompong sagu), Aceh
( lapek sagu/ timphan burune).
Sagu juga dapat
dijadikan beberapa jenis kue seperti dangge ( Sulawesi tenggara), rangi (
Jakarta), bagea ( Maluku), ongol-ongol sagu ( jawa barat), laupek sage (aceh),
sagu lempeng (maluku, Kalimantan barat dan papua).
Tumbuhan sagu tumbuh
didaerah rawa atau didaerah yang tanahnya lembab untuk meproduksi tepung sagu
menunggu waktu yang cukup lama hingga sampai 9- 10 tahun. Perkembangbiakan sagu
melalui tunas dalam sebatang pohon sagu dapat berkembang hingga puluhan,
Mulai batang sampai
daun sagu sangat bermamfaat bagi kehidupan masyarakat tolaki. Batang sagu dapat
dijadikan lantai rumah, pelepahnya dapat dijadikan dinding, daunnya dijadikan
atap rumah yang dikenal dengan nama atap rumbia, sementara daging sagu itulah
yang diolah menjadi tepung sagu yang menjadi makanan pokok bagi beberapa suku
yang ada di Indonesia
Ciri-ciri pohon sagu yang dapat dipanen antara
lain : pelepah daun menjadi lebih pendek, kuncup bunga mulai tampak, dan pucuk
pohonnya mendatar.
Dalam mengolah tepung
sagu membutuhkan bahan dan alat seperti : kapak, kerangjang yang ( diameternya
1meter dan tinggi 0,5 meter) , ijuk, atap rumbia, kulit kayu, timbah, basung,
dan alu.
Saat ini tanaman sagu
mulai berkuran seperti di daerah Sulawesi Tenggara dan mentawai karena mereka
mengalifungsikan lahan menjadi sawah tempat menanam padi sawah. Akhirnya
generasi sekarang mulai merasakan. Sehingga perlu bagi masyarakat untuk
berpikir agar tidak memusnakan tanaman sagu sebab sagu merupakan makanan pokok.